Ternyata Susah Untuk Menjadi Istri
ASSALAMUALIKUM
SELAMAT MALAM SALAM SAHABAT BUAT KITA SEMUA
MALAM ini mari kita akan sama-sama menyimak dan mendengar kisah tentang wanita-wanita yang shalihah yang menjad pembelajaran untuk kita semua, supaya kita pun bisa meneladani sifat dari mereka semua.
Inilah kisah pertama dari seorang wanita shalihah bernama Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha
Siapa yang tidak kenal dengan Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha?, Fatimah binti Muhammad, anak bungsu kesayangan dari Nabi Muhammad Shallallaahu ‘AlaihiWasallam.
Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha dinikahkan dengan seorang laki-laki yang sudah lama ia pendam rasa cinta itu sejak kecil, sepupunya sendiri yaitu Ali bin Abi Thali bRadhiyallahu ‘Anhu.
Ketika Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu meminang Fatimah Az ZahraRadhiyallahu ‘Anha. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu bukanlah seorang yang kaya raya. Tidak seperti sahabat-sahabat yang lain, seperti Abu Bakar Ash ShiddiqRadhiyallahu ‘Anhu, atau seperti Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, atau Ustman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu dan sahabat-sahabat kaya yang lainnya.Tidak!.
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu adalah seorang pemuda yang miskin, namun luas keilmuannya, keimanannya sangat kokoh, membuat Nabi MuhammadShallallaahu ‘AlaihiWasallampun menikahkan antara anaknya dan keponakan nya itu Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu.
Ketika menikah mahar yang diberikan oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu adalah baju besi yang digadaikannya kepada Ustman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu dan mereka hidup dengan penuh kesederhanaan.
Pada suatu ketika Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha sedang menggiling gandum mengerjakan seluruh pekerjaan rumahnya tanpa bantuan dari siapapun kecuali suaminya, karena Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu membantu pekerjaan sang istri didalam rumah. Namun ketika itu, ketika sang suami sedang pergi Fatimah Az ZahraRadhiyallahu ‘Anha terus menggiling gandumnya sehingga tangannya melepuh dan sakit kemudian meneteslah air matanya, karena pekerjaan rumahtangga yang begitu berat ,pekerjaan rumah tangga bukan pekerjaan yang ringan, pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya sehingga lelahlah badannya, ia mera saletih mengerjakan semuanya.
Lalu datanglah sang ayah Rasulullah Shallallaahu ‘AlaihiWasallam dan Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha mengadukan keletihannya. Lalu Fatimah Az ZahraRadhiyallahu‘Anha mengatakan:“Wahai ayahku, berikanlah aku asisten rumah tangga, berikanlah aku hodimah supaya aku bisa dibantu dalam mengerjakan permasalahan rumah tangga ini, pekerjaan rumah tangga ini”. Namun apa yang dikatakan olehRasulullahShallallaahu ‘AlaihiWasallam?: “Wahai anakku Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha, mudah saja bagiku memberikan engkau asisten rumah tangga, tapi ketahuilah ada yang lebih baik dari pada itus emua”. “Apa itu?”, kata Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anhadengan tangannya yang masih melepuh dan badannya yang sangat letih itu. RasulullahShallallaahu ‘AlaihiWasallam hanya mengatakan:“Hendaklah sebelum tidur engkau senantiasa berdzikir sebanyak 33 kali tasbih, tahmid, tahlil, takbir. Itulah yang akan meringankan bebanmu, itulah yang akan meringankan pekerjaanmu”.
Sehingga ini menjadi pelajaran bagi kita semua merasa lelah perbanyak lah dzikir.
Ada pelajaran kedua dari kisah wanita pertama yang masuk syurga
Ketika Fatimah az Zahra Radhiyallahu ‘Anha pun bertanya kepada sang ayah Rasulullah Shallallaahu ‘AlaihiWasallam:“WahaiRasulullah Shallallaahu ‘AlaihiWasallam ayahku ,siapakah wanita yang pertama kali masuk syurga?”. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘AlaihiWasallam mengatakan:“Ia adalah Mutiah”. “Siapa Mutiah?”,kata Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha. Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha mengira bahwa dirinyalah wanita yang pertama masuk syurga. Namun ternyata wanita tersebut bernama Mutiah.
Lalu pada akhirnya Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha pun belajar dari sosok Mutiah, kenapa dianggap dan dikataka noleh Rasulullah Shallallaahu ‘AlaihiWasallamsebagai‘wanita yang pertama kali masuk syurga’dibanding dengan Fatimah Az ZahraRadhiyallahu ‘Anha?.
Maka Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha pada ketika itu mendatangi seorang wanita bernama Mutiah atau diriwayat lain mengatakan nama yang lain. Kemudian mengetuk pintu rumah tersebut bersama dengan Hasan anaknya yang masih kecil. Mutiah mengatakan:“Wahai putri Rasulullah Shallallaahu ‘AlaihiWasallam,alangkah bahagia sekali aku kedatangan wanita mulia sepertimu ,maka masuklah kedalam rumahku”. Namun Fatimah Az Zahra Radhiyallahu ‘Anha mengatakan:“Wahai wanita, waha iMutiah, aku ini membawa Hasan anakku yang laki-laki”. Kata wanita tersebut apa?: “Jangan!,mohon maaf wahai putri Rasulullah Shallallaahu ‘AlaihiWasallam, aku tidak mengizinkan engkau untuk memasukkan anak laki-laki ini kedalam rumahku”. “Kenapa?”, kata Fatimah Az Zahra ra.“Karena suamiku mengharamkan aku untuk memasukkan laki-laki kedalam rumahku”, kata Mutiah.“Tapi Hasan anak kecil”, kata FatimahAz Zahra ra.“Termasuk juga Hasan, karena Hasan adalah laki-laki. Datanglah besok, maka aku akan meminta izin kepada suamiku untuk memasukkan Hasan kedalam rumahku”, kata Mutiah.
Maka keesokan harinya Fatimah Az Zahra rapun membawa Hasan dan Husein anak laki-lakinya yang masih kecil-kecil. Lalu apa kata sang wanita tersebut?: “Wahai Fatimah Az Zahra ra,aku mohon maaf,aku minta izin sama suamiku hanya engkau dan Hasan saja tidak dengan Husein”. Fatimah Az Zahra ramengatakan: “Tapi husein anak kecil”. Mutiah mengatakan: “Tapi aku belum minta izin sama suamiku untuk memasuk kan laki-laki lain selain Hasan, maka datanglah besok aku minta izin dulu pada suamiku”, kata wanita tersebut.
Lalu keesokan harinya Fatimah Az Zahra ra, Hasan,Husein pun bertamu kerumah wanita tersebut dan dipersilahkan masuk.
Lalu Fatimah Az Zahra ra melihat ada makanan-makanan yang sedang dipersiapkan sang wanita tersebut dan cambuk. Kemudian Fatimah Az Zahra ra bertanya: “Apa yang hendak engkau lakukan?,apakah makanan dan cambuk ini untuk suamimu?”. “Iya”, kata sang istri tersebut.“Kenapa?,apakah suamimu orang yang jahat?”, kata Fatimah Az Zahra ra.“Tidak!.Hanya saja suamiku bekerja diladang .Aku senantiasa membawa makanan dan cambu ini, kalaulah makananku tidak enak aku menyuruh suamiku sendiri untuk mencambukku”, kata Mutiah.“Suamimu pernah melakukan itu?”, kata Fatimah Az Zahra ra.“Tidak!.Hanya saja,aku takut pelayanan kukurang terhadap suamiku”, kata wanita tersebut.
Fatimah mengatakan: “Lalu apa yang engkau persiapkan ini ada handuk kecil, ada kemudian barang-barang yang lain?”. Sang istri mengatakan, sang wanita itu mengatakan: “Kalau suamiku pulang bekerja, aku menyambutnya dengan hati yang sangat senang dan aku melap keringatnya dengan tanganku sendiri, lalu aku mengipas-ngipasinya hingga dia tidur”, kata wanita tersebut.
Lihatlah pelayanan terbaik yang diberikan sang wanita shalihah ini menjadi pembelajaran untuk kita. Kalau ingin masuk syurga, caranya gampang saja.Wanita bisa masuk syurga dipintu manapun yang mereka sukai hanya dengan: shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, taat pada suami dan menjaga diri ketika suami tidak ada. Dengan begitu engkau bisa masuk kepintu syurga mana saja yang engkau sukai.
Mudah-mudahan kisah ini menjadi pembelajaran untuk kita berlomba-lomba menjadi wanita dani stri yang shalihah.In shaa Allah.Aamiin.
Ayat Al-Quran Tentang Kewajiban Suami, Definisi Wanita Shalehah, dan Wanita Yang Nusyuz (Durhaka)
“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena AllahSubhanahuWaTa’ala telah melebih kan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shaleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah), dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah SubhanahuWaTa’ala telah menjaga mereka. Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka.Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh Allah SubhanahuWaTa’ala Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. An-Nisa: 34)
Hadist Tentang Istri Shalehah
“Tidak ada yang lebih baik di dunia ini bagi seorang muslim setelah menyembah Allah SubhanahuWaTa’ala, selain mendapatkan istri yang shalehah, cantik apa bila di pandang, patuh apabila di perintah, memenuhi sumpah pernikahan, menjaga dirinya dan kekayaan suami disaat suami pergi, mengasuh anak-anaknya, tidak membiarkan orang lain masuk kerumah tanpa izin suami, dan tidak menolah apa bila suami memanggil ketempat tidur.” (HR. Bukhari danMuslim)
Komentar
Posting Komentar